Minggu, 26 Juli 2009

Transformer 2




Transformer 2 : Revenge of The Fallen adalah film yang sudah saya tunggu sejak bulan Maret yang lalu. Bagaimana tidak, film yang dibuat dalam waktu hampir 2 tahun itu menjanjikan efek-efek animasi wah ala Michael Bay dan Steven Spielberg. Berbagai rekan blogger yang sudah menonton pun memberikan komentar dan reviewnya. Bahkan Wikipedia tidak sekedar menyajikan review, tapi cerita dan adegan tiap-tiap scene yang dituliskan secara lengkap, pun beberapa cerita pra dan post produksi dari film ini. Gambar di artikel ini pun saya ambil dari situs itu. Artinya, bagi Sampeyan yang pengin ngerti bagaimana komentar penonton, sumber-sumber online sudah tersedia secara luas dan bebas. Tinggal Sampeyan baca dan cerna informasi yang Sampeyan dapatkan, Sampeyan akan mengerti bagaimana film itu di benak penonton.

Di artikel ini, saya tak hendak mengulas bagaimana action dan jalan cerita film yang tiketnya selalu sold out di IMAX Thailand 3 jam sebelum pemutaran itu. Tapi lebih kepada sisi lain yang ingin ditampilkan dalam film action untuk 13 tahun ke atas tersebut. Sebagaimana film-film Hollywood lainnya, film ini tidak lepas dari pesan politis negeri yang menaungi para penggagas film yang ceritanya sebenarnya berasal dari Jepang. Tapi para penggagas film ini sangat mengerti bagaimana menyampaikan pesan politis itu secara heroik, sehingga penonton pun terbius dan tak sadar dengan apa yang sebenarnya ingin disampaikan lewat film yang berdurasi sekitar 2, 5 jam itu. Jika Sampeyan sudah menonton film, maka kesan pertama yang akan Sampeyan tangkap adalah : Show Of Force militer Amerika. Setuju atau tidak, kenyataannya film ini menampilkan 98% kekuatan dunia yang direpresentasikan HANYA oleh militer Amerika. Masih ingatkah Sampeyan, saat dua buah helikopter milik Jordan ditembak jatuh oleh robot-robot decepticons. Ya! Hanya 2 buah helikopter saja yang berlogo bendera Jordania. Lainnya ? Semua berbendera Amerika. Termasuk satelit yang disadap oleh salah satu anak buah Megatron, berbendera Amerika. Apa artinya? Artinya adalah : jangan coba-coba melawan Amerika, karena persenjataan termutakhir dan paling canggih di Amerika bisa Sampeyan tengok di film ini, mulai dari pesawat tanpa awak yang bisa mendeteksi musuh sampai dengan satelit luar angkasa dengan zooming dan kemampuan untuk memfilter semua arus telekomunikasi telepon seluler di dunia. Maka, bisa kita lihat di film ini, sebenarnya kita sedang menyaksikan peperangan Amerika v.s. Decepticons, bukan Dunia v.s. Decepticons.

Hal selanjutnya yang harus Sampeyan cermati adalah dua negara di mana NEST (organisasi gabungan antara Autobot dan militer AS) memberantas Decepticons. Meskipun Optimus Prime, sang jenderal Autobot, mengatakan telah memberantas Decepticons di 5 benua di dunia, namun kenyataannya hanya dua negara besar selain Amerika yang ditampilkan secara penuh di film ini, China dan Mesir. Adegan di negeri China bisa Sampeyan lihat di bagian awal film, saat Autobot memburu robot di Shanghai. Adegan di Mesir, tentu akan Sampeyan lihat dari pertengahan film sampai akhir. Apa artinya? Artinya adalah, AS ingin mengatakan bahwa mereka masih memiliki pengaruh besar di dua negara yang saat ini sedikit “bermasalah” dengannya, yakni China dan Mesir (mewakili timur tengah). Betapa tidak, adegan paling aneh adalah lolosnya mobil Sam (diperankan oleh Shia Le Bouf) dan kawan-kawan saat melewati imigrasi Mesir, hanya karena mereka mengatakan pada para penjaga perbatasan bahwa mereka adalah turis dari Amerika.

Dua hal ini disampaikan secara apik dan heroik, sehingga para penonton mengakui di alam bawah sadar mereka bahwa hanya AS lah satu-satunya negara yang memiliki daya tempur superior sehingga pantas mempertahankan dunia dari serangan robot-robot rakus decepticons yang ingin menghidupkan mesin penghancur matahari yang tersimpan di dalam Pyramid Giza itu. Ini tentu hal yang sangat wajar, karena dunia perfilman adalah alat diplomasi paling efektif yang bisa masuk ke seluruh negara tanpa hambatan yang berarti. Sangat berbeda dengan film yang sedikit mengusik kebijakan Amerika, seperti karya Michael Moore yang berjudul Fahrenheit 9/11. Pemboikotan film adalah hasil yang dituai dari film ini di Amerika, meskipun di Perancis ia memenangi penghargaan Palme d’Or yang bergengsi. Pesan-pesan ini hendaknya menjadi salah satu wawasan bagi kita pula, bagaimana sebuah negara memilih untuk berdiplomasi melalui film, di mana jutaan penduduk dunia menonton dan mengulang-ulang filmnya karena mereka terpana dengan film yang sangat spektakuler ini. Diplomasi yang renyah dan efektif ini akan sangat manjur mengembalikan kepercayaan dunia, bahwa AS masih satu-satunya negara yang kuat dan superpower (meskipun tidak semua orang setuju tentang hal ini). Terlepas dari itu semua, sebagai sebuah hiburan semata, Sampeyan bisa menjadikan film ini sebagai alternatif. Rating 13 tahun ke atas sepertinya cocok untuk adegan pertarungan penuh dengan kekerasan (action) dan beberapa demonstrasi penggunaan alat ledak canggih lainnya.

Oya, jangan pernah memilih duduk di barisan depan bioskop, karena film ini akan membuat kepala Anda sangat pegal dan sedikit menimbulkan efek “pening” karena animasi 3D yang overdosis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar